Sekilas Sejarah Tempat Peziarahan Gunung Sempu

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Mencari air kehidupan

Ketika kompleks perumahan PPLH Gunung Sempu mulai dihuni, sebagian besar warga kesulitan mencari air minum, karena air yang mengalir dari PDAM banyak mengandung zat kapur dan itupun tidak secara rutin dapat mereka peroleh karena debitnya terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut warga mencari air di sumur milik Bpk. VY Suhartono di dusun Kembaran. Pada suatu ketika Bapak VY Suhartono yang kebetulan seorang Prodiakon Paroki, memperhatikan mereka yang mengambil air di sumurnya, ketika menurut perasaan hatinya mereka ini pengikut Kristus/Katholik maka dia bertanya dan akhirnya saling berkenalan. Sampai pada suatu ketika bpk VY Suhartono telah memperoleh beberapa nama dan mereka sepakat untuk untuk berdoa bersama, mereka yang menanggapi secara serius adalah bpk FX Mijiono, dan A. Samsuri.

Aku ingin berdoa di tempat yang sepi

Pilihan tempat doa itu adalah ‘Bukit Sempu’ yang pada saat itu masih berupa semak belukar dan tananam pandan berduri. Pada suatu malam mulailah mereka berdoa di Bukit Sempu, mengingat kondisi tempat yang tidak nyaman untuk berdoa, maka tempat berdoapun berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain di sekitar bukit Sempu. Sehingga pada suatu hari mereka menemukan tempat yang mereka sebut ’watu ceper’. Batu ini selanjutnya mereka gunakan sebagai ’meja perjamuan’. Setelah berjalan beberapa hari Bapak Alexander Weka mendengar ada persekutuan doa tersebut dan bergabung bersama bapak VY Suhartono, FX Mujiono, AL Samsuri dan kawan-kawan. Hari demi hari jumlah umat yang berdoapun semakin bertambah banyak. Doa bersama ini lalu diperkuat dan diteguhkan dengan kehadiran Romo Sandiwan Broto,Pr sebagai Pastor pembantu di Paroki Pugeran dan Romo Kuntoro Wiryomartono,SJ. Tidak ketinggalan umat di Lingkungan Bangunjiwo Timur ( blok Sembungan saat itu ) ikut bergabung pula dalam doa  ini.

Di atasbatu karang ini akan Kudirikan GerejaKu

Kegiatan doa bersama ini dilakukan hampir setiap malam tanpa mengenal lelah. Pada suatu malam doa bersama ini ditangkap tanda-tanda yang semakin diyakini bahwa tempat ini dipilih Tuhan untuk tempat dibangunnya Gereja. Dalam doa itu ada salah satu umat peserta doa (Bapak Alexander Weka) menyatakan : “Diatas batu inilah akan didirikan Gereja.”
Sejak disampaikan oleh Bapak Alexander Weka bahwa di tempat ini akan didirikan Gereja, maka di antara peserta doa selalu bergulat betulkah akan dididirikan Gereja di bukit yang sulit untuk dijamah ini? Namun dengan penuh perjuangan perjalanan doa bersama pun terus berlangsung.

Tanda-tanda kehadiran Allah

Selama doa berlangsung banyak kesaksian serta mukjizat yang dialami umat peserta doa semakin dapat dirasakan. Kesembuhan dari sakitnya dan pertobatan umat sehingga lahir kembali menjadi manusia baru.
Proses selanjutnya saat tengah malam, diukurlah sebidang tanah dengan diagonal tegak lurus, yang sejajar dengan bintang salib pada galaksi Bimasakti. Setelah dihitung luas tanah itu adalah 1295 m2• Luas sebidang tanah tersebut yang menjadi awal untuk pembangunan gereja. Karena tanah itu merupakan tanah dalam kekuasaan PT IBS maka harus diminta persetujuan dari PT IBS tersebut. Setelah diajukan ke pimpinan PT. IBS temyata PT. IBS minta persyaratan dengan jalan harus dibuat proposal yang menerangkan bahwa tanah seluas tersebut di atas dan di tempat itu adalah benar-benar kehendak Tuhan. Untuk pembuktian hal tersebut dilakukanlah melalui proses berdoa, berdiskusi dan pada tanggal 3 September 1984 ditemukanlah jawabannya. Setelah dikonsultasikan dengan pastor pembimbing (Romo Kuntoro), hal tersebut dibenarkan karena penemuan itu sesuai dengan hari perayaan Gregorius Agung Pembaharu Gereja. Maka disimpulkan bahwa gereja yang akan dibangun adalah gereja pembaharu.

Gereja bangkit bersama bangsa

Setelah proses yang panjang, terbangunlah gereja tersebut dan diresmikan oleh Kepala Daerah Kabupaten Bantul KRT Suryopadmo Hadiningrat dan diberkati oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Julius Darmaatmadja S.J, pada tgl 20 Mei 1990. ( bersamaan dengan tanggal peringatan Hari Kebangkitan Nasional ).
Dari proses awal sampai dengan peresmian gereja terjadi peristiwa ¬peristiwa pertobatan, penyembuhan dan pendewasaan iman.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s